Posts Tagged ‘Hospital’

Banyak alasan mengapa pasien mencari pengobatan medis ke luar negeri, mulai dari standar pelayanan yang dianggap lebih baik, fasilitas lebih canggih, atau hanya karena ingin berobat sambil pelesir.

Beberapa negara di Asia saat ini tengah berlomba-lomba menarik sebanyak mungkin pasien internasional untuk datang ke rumah sakitnya. Pasien yang sering disebut dengan turis medis itu memang mencari hal yang tidak mereka dapatkan di negerinya.

Berdasarkan Medical Travel Quality Alliance (MTQUA) 7 dari 10 rumah sakit turisme medis terbaik ada di Asia. Para rumah sakit itu melayani ribuan turis medis dari berbagai negara.

Berikut adalah daftar 10 rumah sakit medis terbaik menurut MTQUA di tahun 2013.

1. Prince Court Medical Center, Kuala Lumpur, Malaysia
Rumah sakit ini menawarkan keunggulan di bidang bedah. Layanan utama mereka termasuk unit luka bakar yang mewah dan klinik bayi tabung dengan monitoring kehamilan kembar.

2. Asklepios Klinik Barmbek, Hamburg, Jerman
Kelebihan dari rumah sakit ini adalah fasilitas dan peralatan medis yang canggih. Hampir semua peralatan kedokteran yang diproduksi oleh perusahaan Jerman diuji coba di rumah sakit ini sebelum diedarkan ke seluruh dunia. Asklepios Group juga merupakan jaringan rumah sakit swasta terbesar di Eropa.

3. Clemencau Medical Center, Beirut, Lebanon
Clemencau memiliki ikatan dengan rumah sakit Johns Hopkins di Baltimore AS. Rumah sakit ini termasuk yang paling menonjol di Timur Tengah. Tahun lalu rumah sakit ini juga mengadopsi Enam Sasaran Keamanan Pasien International yang meningkatkan penggunaan kode yang dienkripsi dan terlindungi untuk mengakes data pasien secara elektronik.

4. Fortis Hospital, Bangalore, India
Rumah sakit ini menawarkan dokter-dokter spesialis bedah untuk para turis medis, khususnya pasien yang ingin menjalani bedah ortophedi. Keahlian mereka terutama dalam bedah penggantian panggul. Rumah sakit ini juga bekerja sama dengan jaringan agen medis di AS untuk kontrol bagi pasien Amerika yang sudah kembali ke negaranya.

5. Wooridul Spine Hospital, Seoul, Korea
Keunikan rumah sakit ini adalah terdepan dalam perawatan tulang belakang. Kehebatan dokter-dokter mereka dalam menangani tulang belakang sudah tersohor . Wooridul adalah satu-satunya rumah sakit spesialis dalam daftar ini.

6. Bumrungrad International, Bangkok, Thailand
Memiliki pengalaman cukup lama, 20 tahun, dalam bidang turisme medis, Bumrungrad memiliki reputasi cukup baik. Rumah sakit ini juga berinvestasi besar dalam penggunaan teknologi.

7. Anadolu Medical Center, Istanbul, Turki
Istanbul adalah rumah bagi beberapa rumah sakit terbaik. Anadolu menawarkan standar yang tinggi dalam perawatan dan pelayanan bagi pasien. Fokus rumah sakit ini memang pasien internasional sehingga dokter dan perawat di sini wajib menguasai lebih dari satu bahasa.

8. Bangkok Hospital Medical Center, Bangkok, Thailand
Sebagai “markas besar” dari jaringan rumah sakit swasta terbesar di Thailand, rumah sakit ini memenuhi beberapa kriteria sebagai rumah sakit turisme medis.

9. Gleneagles Hospital, Singapura
Grup Parkway memiliki beberapa rumah sakit di seluruh Asia, namun rumah sakit Gleneagles adalah yang menjadi acuan utamanya. Rumah sakit ini juga sering dijadikan standar layanan bagi rumah sakit swasta lainnya di Singapura.

10. Asian Heart Institute, Mumbai, India
Ini adalah salah satu dari sedikit rumah sakit yang mampu melakukan hampir 100 persen operasi pintas jantung (bypass) pada jantung yang masih berdetak. Rumah sakit ini juga memiliki tingkat kematian yang rendah dalam operasi pintas jantung dan kematian secara umum. Beberapa kasus yang sulit dan langka sering ditangani dokter di rumah sakit ini.

sumber : http://health.kompas.com/read/2015/06/06/140000323/10.Rumah.Sakit.Turisme.Medis.Terbaik.di.Dunia

Advertisements

Berdasarkan Peraturan Ketua Eksekutif Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) nomor 1666 tahun 2014 tanggal 1 Oktober 2014 tentang Penetapan Status Akreditasi Rumah Sakit.

Bahwa penetapan disesuaikan dengan kemampuan RS dg beberapa tingkat berdasarkan capaian bab dg nilai ≥ 80% dengan kelipatan 4 bab dan tidak ada dg nilai ≤ 20%, ditetapkan sebagai berikut:

Tingkat Dasar dg capaian 4 bab. Tingkat Madya dg capaian 8 bab. Tingkat Utama dg capaian 12 bab. dan Tingkat Paripurna dg capaian 15 bab.

Bila belum tercapai dlm setiap bab dapat mengajukan survei ulang dlm waktu 3-6 bulan. Bagi yg tidak terakreditasi krn tdk mencapai minimal 4 bab, dapat mengajukan survei ulang secepat2nya setelah 4 bulan dari tanggal survei pertama.

Penetapan status akreditasi program khusus meliputi 4 bab, yaitu: Bab Hak Pasien dan Keluarga (HPK), Bab Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Bab Kualifikasi Pendidikan Staf (KPS), dan Bab Sasaran Keselamatan Pasien (SKP).

Program khusus ini hanya berlaku bagi RSU kelas C yg mberikan pelayanan spesialistik dasar tanpa subspesialistik, kelas D dan D Pratama, serta RSK kelas C. Program ini hanya dapat dilaksanakan sekali saja untuk pertama kali menggunakan akreditasi versi 2012, selanjutnya wajib reguler.

ENG:

 

DI INDONESIA BALI MEMILIKI RS PARIWISATA PERTAMA
Provinsi Bali akan memiliki rumah sakit pariwisata pertama di Indonesia dengan memberikan paket dan layanan medis kepada para wisatawan yang berlibur di Pulau Dewata Bali. Rumah Sakit BIMC memberikan pelayanan penyembuhan seperti diet khusus dan nutrisi, spa dan program kebugaran, serta menjamin akses kursi roda ke seluruh area.

Dengan fasilitas dan kenyamanan dalam kamar dan resor yang luas, hotel itu merupakan properti pertama di Indonesia yang khusus memberikan pelayanan medis seperti kunjungan perawat pascaperawatan dan keamanan yang tetap terjaga hingga prosedur medis pelanggan selesai, serta pembedahan yang lengkap yang dilengkapi tiga ruang operasi dengan CosMedic, dialisis, dan fasilitas gigi.

Rumah sakit dengan 50 tempat tidur itu berada dengan suasana yang teduh seluas satu hektar dengan pelayanan gawat darurat 24 jam dan ruang tunggu ala hotel di gedung yang melayani kebutuhan medis, dialisis, dan pusat gigi. Fasilitas juga dirancang dengan pintu masuk pribadi yang mengarah ke Pusat Cosmedic dengan pemandangan langsung menghadap lapangan golf, sementara itu tim medis profesional yang berasal dari Australia, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Swedia, Selandia Baru, dan Indonesia yang langsung diketuai oleh Direktur Medis Rumah Sakit BIMC Dr. Donna Moniaga.

Eng :
The first tourism hospital in Bali, Indonesia
Bali province will have the first tourism hospital in Indonesia with medical services for tourists who got holiday in Dewata Island, Bali. BIMC hospital’s giving a health care, such as special diet and nutrition, spa and fitness, and to assurance for wheelchairs in all area.

With facilities and comfortable rooms and wide resort, this hotel is the first properties in Indonesia which is giving medical services, such as home care, security, and full equip surgeon with three surgical rooms which are CosMedic, Dialysis, and teeth facilities.
The hospital has 50 beds with cozy condition, 24 hours emergency, and waiting room like a hotel in a hectare. There also has a private door towards a Cosmedic Center with viewing a golf field, and there also have medical professional team from Australia, USA, England, Germany, Sweden, New Zealand, and Indonesia which is directly led by Medical Director at BIMC Hospital, dr. Moniaga.

Ref :
http://www.imtelkom.ac.id/index.php/23-ekonomi/ekonomi/837-di-indonesia-bali-memiliki-rs-pariwisata-pertama

Mishbahuddin

blog hospital tourism  Wisata Kesehatan

Empat daerah disiapkan untuk menjadi daerah tujuan wisata kesehatan yaitu Jakarta, Bali, Manado dan Makassar yang menggabungkan antara layanan kesehatan medis dan non medis serta perjalanan wisata.
“Empat daerah itu memiliki segi budaya yang banyak bisa kita tawarkan, begitu juga wisata, baik di bawah laut maupun di atas laut,” kata Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi ketika membuka Konferensi Internasional Health Tourism di Jakarta, Kamis (29/11/2012).

Menkes menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu tentang Wisata Kesehatan yang diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan pembangunan pariwisata dan kesehatan termasuk wisata kesehatan.
Kegiatan wisata kesehatan merupakan salah satu penggerak perekonomian yang penting di kawasan Asia Pasifik dengan besar uang dibelanjakan secara global diperkirakan mencapai 100 miliar dollar AS pada tahun 2012.

Menkes mengatakan kebijakan wisata kesehatan di Indonesia akan dikembangkan pada dua aspek yaitu “medical tourism” atau perjalanan wisata untuk mendapatkan layanan kesehatan medis dan “wellness tourism” untuk mendapatkan layanan kesehatan non medis yang seringkali berupa layanan bersifat promotif atau preventif. Salah satu estimasi di tahun 2006 memperkirakan sekitar 350 ribu orang Indonesia melakukan pengobatan di luar negeri dengan pengeluaran mencapai 500 juta dollar AS.

Jumlah itu diperkirakan bertambah dimana pada tahun 2012 jumlah orang Indonesia yang mencari pengobatan di luar negeri mencapai 600 ribu orang dan pengeluarannya meningkat hingga 1,4 miliar dollar AS. Sebagai perbandingan, negara Thailand yang relatif berhasil mengembangkan wisata kesehatannya memperoleh devisa hingga 3,2 miliar dollar AS pada tahun 2011.

Survei global yang dilakukan McKinsey pada 2008 menunjukkan alasan utama konsumen mencari pengobatan di luar negeri adalah teknologi yang mutakhir (40 persen), perawatan yang lebih baik (32 persen), mencari pelayanan medis yang lebih cepat (15 persen) dan perawatan yang lebih murah (9 persen). Sementara itu, Menparekraf Mari Elka Pangestu mengatakan wisata kesehatan untuk kebugaran, sebanyak 30 spa telah disiapkan sebagai tahap pertama yang akan dipromosikan. “Sebanyak 30 spa ini sudah diidentifikasi, akan jadi tahap pertama yang akan dipromosikan untuk layanan paket, dikombinasikan dengan perawatan kesehatan,” ujar Mari.

Eng :

There are 4 regions to preparing a health tourism, which are Jakarta, Bali, Manado, and Makassar to combine between medical and non medical with tourism. Minister of Health, Nafsiah Mboi said that they have a lot culture, and have interested places in the sea and others.

Minister of Health has signed a MOU with Minister of Tourism about health tourism, which it’s wished to improve tourism and health development. It’s one of economical improvement in Pacific Asian with budgeting around $ 100 billion in 2012.

She said that a policy of health tourism in Indonesia will be developed by 2 aspects, which are medical tourism (medical) and wellness tourism (non medical), such as promote and preventive. There are 350 thousands Indonesian people approximately going to abroad to get medical in 2006. It means that there are $500 billion for it

It will be predicted higher in 2012 they go to abroad with 600 thousands people, and it spends $1.4 billion, she said. It can be seen in Thailand that it successes to develop health tourism so that it obtains $3.2 billions for the country in 2011.

Global survey which was done by McKinsey in 2008 show that the reason of customers getting medical in abroad is up to date technology (40%), better services (32%), faster medical services (15%), and cheaper in budgeting (9%). Minister of Tourism, Mari Eka Pangestu said that health tourism for fitness will be prepared with 30 Spas  for the first step in package services, it will be combined with health care.

Ref :

http://travel.kompas.com/read/2012/11/30/07023216/Empat.Daerah.Disiapkan.untuk.Wisata.Kesehatan?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

Mishbahuddin

Endang (Health Minister of Indonesia) in 2.5 years

Rumah Sakit Indonesia di Gaza Berbentuk Qubbah Sakhra

Ada sedikit keterlambatan pembangunan RS Indonesia di Gaza, kendala-kendala tersebut antara lain; mulai dari susahnya para relawan masuk ke Gaza untuk mengawal pembangunan, susahnya mendapatkan material yang disebabkan material harus diadakan melalui terowongan, ditambah lagi kondisi keamanan di Gaza. Hal ini mengakibatkan beberapa kali proses pembangunan harus dihentikan, serta berbagai kendala yang harus dihadapi.

Dari kejauhan RSI Gaza berbentuk segi delapan seperti Qubbah Sakhra di Masjid Al-Aqsha ini sudah nampak berdiri tegak diantara bangunan-bangunan lainnya di Bayt Lahiya, Gaza Utara. Letaknya yang berada didekat perbatasan Gaza dan Israel. Jika Indonesia punya Masjid Istiqlal di Bosnia yang dibangun oleh Soeharto, maka  saat ini Indonesia punya Rumah Sakit yang dibangun oleh kekuatan rakyat, yang dibangun oleh rasa persatuan, rasa cinta rakyat Indonesia.

Pemerintah Palestina telah mewakafkan tanah seluas 16.261 meter persegi untuk program pembangunan RSI di Jalur Gaza yang saat ini tengah dibangun oleh MER-C dan dananya berasal dari sumbangan rakyat Indonesia. Sebanyak 6 relawan Indonesia (MER-C) sudah bertugas di Gaza selama lebih dari satu tahun untuk mengawal proses pembangunan RSI di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina.

Eng:

There’s a little late to build a hospital in Gaza because some volunteers’re difficult to entry the locus  to control the building, there’s a difficult to get some materials so that by using a tunnel, and a safety condition. Therefore, the building process had been stoped some times.

When we looked at from far away, it’s built an octagonal like a Sakhra Quba at Al-Aqsha Mosque among others building in Bayt Lahiya, North Gaza. It’s located a close to Gaza and Israel boundary. There’s Istiqlal Mosque in Bosnia which was built by Soeharto (the 2nd President of Indonesia). The other hand, there’s the Indonesian hospital which was built by a donation from Indonesian people.

Palestine Govenment had given 16.261 m2 land for Indonesian Hospital which’s built by MER-C. There’re six MER-C  volunteers had worked for more than a year in Gaza to control it the hospital building.

Ref :

http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/12/02/04/lyvmxu-mantap-rumah-sakit-indonesia-di-gaza-berbentuk-qubbah-sakhra

Mishbahuddin

Pelayanan Kesehatan Terbang (Flying Health Care)

Ada dua kegiatan baru yang tercantum dalam Rencana Aksi 2012-2014 di Kementerian Kesehatan, salah satunya adalah pelaksanaan peningkatan akses pelayanan kesehatan melalui Pelayanan Kesehatan Udara/Terbang (Flying Health Care), yang dimulai tahun 2012.

Pelayanan dibutuhkan khusus bagi daerah seperti Papua yang daerahnya luas dengan jumlah penduduk kecil sehingga akses layanan masyarakat tidak dapat disediakan dengan sistem konvensional, seperti pembangunan puskesmas atau rumah sakit. Artinya, pelayanan kesehatan ini bukan pada jumlah penduduk yang besar karena jumlahnya ’hanya’ 2,8 juta orang, melainkan karena kondisi geografisnya.

Perhitungan secara rasio antara jumlah tenaga kesehatan dengan jumlah penduduk di Papua sudah mencukupi. Namun, karena luasnya daerah itu sehingga belum semua penduduk memiliki akses terhadap layanan kesehatan. Dengan “Flying Health Care”, diharapkan layanan kesehatan masyarakat di daerah terpencil dapat disediakan oleh satu tim yang akan berpindah-pindah sesuai dengan kebutuhan masyarakat sesuai dengan program Kementerian Kesehatan RI tentang program pemeretaan kesehatan di DTPK (Daerah Terpencil Perbatasan dan Kepulauan.

Eng:

There’re two new program in action plan 2012-2014 at Ministery of Health. One of them’s improving in health care by Flying Health Care will begin in 2012.

It’s needed for special region such as Papua island, which is a wide region but small population. In addition, it might not establish a hospital or health centre because of access. It means that it’s not only a big population but it’s caused by geographical condition.

Ratio among health staff and population in Papua’s been fulfilled. Although, access in health care hasn’t been spreaded yet to all population because of wide of region. With Flying Health Care would be hoped for all communities could access a health care, especially in sub district (isolated) regional by a team, who would be mobiled in accordance with communities needed and Ministery of Health program about health distribution program in Isolated, Boundary, and Island Regional (IBIR).

Ref:
http://www.sehatnews.com/2012/02/21/flying-health-care-untuk-papua/
Mishbahuddin

5 RS Di Indonesia Yang Terakreditasi Internasional

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan rumah sakit di Indonesia baru memiliki 5 RS yang terakreditasi internasional dari 1.800 RS dan itu dimiliki oleh RS swasta.
Dari 1.800 tersebut, kira 65-66 % yang terakreditasi nasional, dan sepertiga RS adalah milik swasta. Apakah kendalanya?
Hal ini disebabkan karena terkendala dengan standar pelayanan. Dalam mencapai akreditasi nasional tersebut memiliki banyak standar pelayanan, minimal ada 5 standar pelayanan.
Menkes sedang mempersiapkan 7 RS milik pemerintah untuk terakreditasi internasional. Dua diantaranya adalah RSCM dan RSPAD Gatot Subroto.

Eng :

Minister of Health Republic of Indonesia, Endang Rahayu Sedyaningsih said there’s only 1.800 hospitals international accredited in Indonesia that’s owned by private hospitals.
65 to 66% of 1.800 hospitals in Indonesia achieved national accredited, and 1/3 of hospitals’ owned by private. Why hadn’t all hospitals achieved an accreditation yet?
It’s caused by standard of services. A lot of standard of services to achieve the accreditation, it has 5 minimal standards for national accredited.
Minister of Health Republic of Indonesia has been preparing to be international accreditation for 7 government hospitals. Two of them are Cipto Mangungkusumo Hospital (RSCM) and Gatot Subroto Army Hospital (RSPAD).

Ref :

http://metrotvnews.com/read/news/2012/02/15/81968/Menkes-Baru-5-dari-1.800-RS-Terakreditasi-Internasional/3

Mishbahuddin

Hospital News 1#

Posted: February 16, 2012 in Hobbies
Tags: , , , ,

RESTORAN ALA RUMAH SAKIT

Pernahkah anda memakan organ tubuh, menyedot minuman pake suntikan?… Tapi ini bukan organ tubuh asli karena ini merupakan sebuah restoran di Riga, Ibukota negara Latvia, dengan nama restoran adalah Hospitalis.
Dekorasi ruangan seperti rumah sakit (serba putih dengan elemen stainless steel yang disambut dengan para staf berpakaian putih ala dokter dan suster). Suasana tempat makan bisa dipilih sesuai dengan tema yang ada di rumah sakit, seperti tempat yang bertema ruangan bedah lengkap dengan lampu operasi yang besar, atau tempat duduk ala tempat tidur bayi, atau duduk dikursi periksa gigi.
Peralatan makanan juga mirip peralatan rumah sakit, tidak ada sendok, garpu, atau pisau makan normal, tapi anda makan dengan menggunakan jarum suntik atau pisau bedah yang tersedia serta minuman disajikan dalam bentuk tabung reaksi dan labu erlenmeyer.
Jika ingin lebih menantang lagi, bisa pesan makanan “menu gila”, tapi harus menandatangani surat pernyataan dulu karena menyerupai organ tubuh manusia. walaupun pesannya cake, tapi menyerupai jari, hidung, lidah manusia.
Anda bisa disuapi oleh “Suster” seksi, dengan syarat anda harus dibungkus jaket seperti pasien penderita sakit jiwa,lengkap dengan menggunakan kursi roda.
Musik backgroundnya juga tidak lagu top 10, tapi lagu-lagu pemakaman. Direktur Hospitalis, Marita Bundule, membuat konsep restoran ini agar mematahkan anggapan bahwa rumah sakit identik dengan kegiatan menyakitkan, tapi menyenangkan dan menikmati santapan lezat.
Restoran ini bukan resotan bertema rumah sakit yang pertama dan satu-satunya di dunia, tapi sebelumnya sudah ada di Taipei (D.S. Music Restaurant) dan di Singapura (Clinic), dan pemilik ketiga restoran ini dulunya adalah dokter.

Eng:

Have you eaten ‘human body’ or drunk with a injection?… But it’s not real cause it’s all at a restaurant in Riga, capital city of Latvia, which restaurant name is Hospitalis. Interior’s like hospital (white theme with stainless steel and waitress’s like doctor or nurse). You can choose a table with different theme, such as a surgery with operation light, children bed, or dental patient theme. There’s no normal spoon, fork, or knife, but you have to use a injection or surgery knife, and drinking like labor tube. If you want more challenge, you can order “crazy menu” with sign to order because they’re like a human organ. Even you order a cake, but it’s like a finger, nose, or tongue. You can be fed by a nurse with a requirement, you have to be covered by jacket like psychopath with using a wheel chair. Music’s also like a funeral music. It’s not first or the only one concept, but there’re also others, such in Taipei (D.S. Music Restaurant) and Singapore (Clinic). It’s all own by doctor.

Ref:

http://food.detik.com/read/2012/01/31/221218/1830870/294/yuk-intip-resto-hospitalis-resto-bagai-rumah-sakit

Mishbahuddin

Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia merupakan pengakuan dari Pemerintah tentang standar pelayanan rumah sakit yang diberikan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit secara nasional yang dilakukan oleh suveyor independent melalui lembaga KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit). Pelayanan minimal yang wajib dilakukan untuk penilaian akreditasi oleh setiap rumah sakit adalah 5 pelayanan, yaitu administrasi manajemen, pelayanan UGD, Pelayanan Medis, Pelayanan Keperawatan, dan Rekam Medis. Jika 5 pelayanan ini dapat dinilai penuh, maka penilaian Pelayanan lain dapat ditingkatkan menjadi 16 pelayanan. Pada bulan Juni tahun 2012, penilaian akreditasi dimulai dengan sistem penilaian baru yang mengacu pada Joint Commission International (JCI). Sisten Penilaian ini memiliki 4 kelompok yang terdiri dari Standar Pelayanan yang Berfokus pada Pasien, Standar Manajemen Rumah Sakit, Keselamatan Pasien, dan Millenium Development Goals. Bagi rumah sakit yang belum pernah menjalankan akreditasi sebelum Juni 2012, masih diberi kesempatan untuk menjalankan akreditasi dengan 5 standar pelayanan minimal. Tapi mulai Juni 2012, semua rumah sakit sudah harus melaksanakan akreditasi dengan menggunakan sistem penilaian yang baru (JCI).

Eng:
Hospital accreditation in Indonesia is an acknowledgement of the government about national standard for hospital services through independent surveyors at the Commission on Hospital Accreditation. There are five standard of hospital services for accreditation, which are Administration Management, Emergency Unit Services, Medical Services, Nursing Services, and Medical record. When the hospital can be fullfilled for 5 standard completely, it can be increased to be 16 standard. In 2012 June, it will be using a new assessment system which is called Joint Commission International (JCI). It’s using 4 groups, which are Standard of Services with focusing on patient, Standard of Hospital Management, Patient Safety, and Millenium Development Goals (MDGs). When some hospitals haven’t done the accreditation yet before June 2012, they can be done for 5 minimal standard. However, they have to be done the new accreditation assessment system (JCI) after June 2012.

Bisnis Rumah Sakit juga merupakan bisnis yang unik dan kompleks. Disamping harus memikirkan unsur sosial, tapi Rumah Sakit juga harus memikirkan bagaimana sebuah Rumah Sakit dapat bertahan dan terus mengembangkan menjadi Rumah Sakit yang profesional dan siap bersaing dengan rumah sakit lainnya (baik pemerintah maupun swasta, baik dalam negeri maupun luar negeri).
Rumah sakit dikatakan unik dan kompleks adalah karena di dalam operasional rumah sakit tersebut terdapatnya bermacam-macam profesi (mulai dari tenaga ahli/konsultan, admnistrasi/manajemen, petugas kebersihan, workshop, dll), yang disebut padat profesi. Ada juga disebut dengan padat modal, padat masalah, padat teknologi, dan padat lainnya. Untuk itu perlu formula-formula atau konsep sebuah manajemen rumah sakit agar seluruh padat atau kepentingan tersebut dapat dikombinasikan menjadi sebuah konsep yang hebat menjadi rumah sakit yang sempurna khususnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Itulah sebuah tantangan yang harus di hadapi serta diatasi masalahnya bagi para pemimpin-pemimpin rumah sakit. Siapkah anda untuk memimpin rumah sakit, yang tidak hanya berhadapan dengan para pasien yang sakit, tapi juga bagi masyarakat yang sehat, mengelola para karyawan mulai dari tingkat pendidikan yang rendah sampai dengan tingkat pendidikan yang sangat tinggi, serta menghadapi pihak-pihak yang akan bekerjasama dengan rumah sakit kita sendiri.
Siapkah Anda ? Kerjakan yang terbaik menurut anda.

Eng:
A hospital business is unique and complex business. The hospital isn’t only social activities, but also profit activities which is considered to keep exist and develop to become professionalism hospital and compete with other hospital (government, private, and overseas hospital).
Why it is unique and complex, because there are a lot of expert and professional staff (consultant, administrator, technical, etc) work at it which is called professionalism compact, and there are also capital compact, problem compact, technology compact, and etc.
Therefore, it is needed a great formula / concept to become excellent hospital, especially for giving a service to community.
That’s a challenging for hospital leaders. Are you ready to become a hospital leader? Do your best.

In Indonesia, Government hospital and Private hospital could be competed each other, including income, human resources (qualified doctor, paramedic), hospital equipments, etc.

Each hospital can obtain some income from “jamkesmas”, “jamkesda”, “askes” (some patient insurance even for poor people), and also from ‘out of pocket’ for ‘rich people’. Human resources (doctors and other medicals) still often be wanted for both of hospitals in district area because of lacking of human resources. Little bit difficult for doctor distribution because some doctors want to work in city. That’s why, each hospital would be competed to look for some doctors in same area. In fact, it could be joint venture (MoU) to Health Minister, Health District, or some Universities which have Faculty of Medicine to fulfill in doctors specially in Specialist Doctors. Hospital equipment could be supplied in hospital for supporting services. It could be bought directly for hospital investment or done by joint venture with some suppliers. A lot of joint venture method to obtain equipment depending on agreement. So, do the best for your hospital services. It has a lot of tips and tricks. Just do it!

Mishbahuddin

A hospital has to be classified after finishing an operational license. There’re 4 classes which are class A, B, C, D. Each class has to have basic medical services, dental medical services, family planning services, and 24 hours service for emergency. For Class A, B, and C must have 4 basic specialists (internist, pediatrician, surgeon, and obstetric gynecology). On the other hand, Class D has to have 2 basic specialists for minimal. There are also 5 specialists for medical support. Class D must have 2 of them which are radiology and clinical pathology. Class C must have 2 and plus anesthesiology. Class B must have 3 above and plus medical rehabilitation.  And class A must have 4 above and plus anatomy pathology.

How many beds must they have???? For class D has ≥50 beds, C has ≥100 beds, B has ≥200 beds, and A has ≥400 beds.

That’s only the main compulsory. Actually, there’re still a lot of requirements.

Good luck.

Mishbahuddin

After the hospital proposed the type of hospital to the Minister of Health with other attachments, the Minister of Health will set the team to assessment of hospital classification.  When the hospital had obtained a temporary operational license and type of hospital classification, it will obtain permanent operational license for 5 years. It can be continued as long as a requirement is fulfilled.

When the hospital had obtained as above mentioned, it has to registered and accredited.

The hospital can be improved to next type. For example, from C or D Class of hospital type could be B or A class. Proposing to Improve the class has to be attached: recommendation letter from Health District, Hospital Profile, Self-Assessment instrument, and Accreditation license from previous class.

What’s the requirement of each class???

To be continued…

Mishbahuddin

Established License has been discussed last time. What about Operational License for the hospital???
To obtain the Operational License, it has requirements which are; 1) Facilities, 2) Hospital equipment, 3) Human resources, 4) Administration and management.
When the hospital hasn’t had them completely, it’ll be given only Temporary License for a year. After getting it, it has to propose the type of hospital to Health Minister with attachment a recommendation letter from District Health Department, hospital profile and data, and form of self assessment. Finally, it’ll be given a Permanent License for 5 years.Ready??? Go!!!
Good luck for building and establishing

Mishbahuddin

There’s a new rule from Ministry of Health in Indonesia about a license of hospital in 2010 because every hospital must have the license. It has two types which are establishing and operational license. Operational license also has two types which are operational license for temporary and permanent. It is proposed with based on type and classification of the hospital. The requirement of establishing license is it must have a feasibility study, master plan, own status, letter of recommendation to establish, waste management, and etc. It’s given for two years later, and can be continued for 1 year.

What about operational license???

A lot of requirements for it …

Mishbahuddin

Have you counted the unit cost on your hospital. A lot of ways to count it. Sometimes, the hospital management team couldn’t count it because it would be more expensive for a service. Some hospitals just make the price with the average of surrounding price. What ever you use, it’s considered with the community capacity. Standart on Minimum Services (SPM) for the hospital should be had. It can be known and learnt by Ministery of Health documents. What is the contents?
It can be prepared from emergency unit, in and out patient, administration management, medical services, nursing services, medical supporting services, and non medical services. It’s basis on the hospital quality to improve the hospital to achieve an accreditation, an agency of general services (BLU), etc.
Mishbahuddin
Human resources should be considered to establish the hospital, especially in medical doctor staff.
You should ask the doctor about a letter of medical registered or medical practice (or we call STR / SIP) for general practice and specialized doctor. In Indonesia, the maximum of doctor practice is three. In addition, Midwives and Nurses also have to have the letter.
Cost analysis should be prepared. It is like tariff scheme which is written by owner with considering people surrounding. Medical equipment can be prepared depending on the type of hospital. On the other hand, the owner has to write the letter of joining to PERSI (Indonesia Hospital Association) and letter of ready to be accredited.
The temporary permitted will be given if all docs have already had been prepared, and it will be continued to operational permitted.
Have you already had them? Here we go…..
Mishbahuddin
Have you planned a better hospital building (right places for each unit/installation)?
When you prepared documents to establish the hospital, you can learn a document or discuss with a staff from Health Department. There are a lot of docs to be prepared. In Indonesia, there are 5 types to establish the hospital which are type A, B for Education, B, C, or D. Each type has a different requirements.
For type D, there are only 1 or 2 doctor in specialist such as Obstetric Gynecology or Pediatric only. Type C has 4 doctor in specialist for minimum, which are Obstetric and Gynecology, Pediatric, Internist, and Surgeon. For B and A type has more doctor in specialist and sub specialist than C or D type.
What about equipments and facilities? There are also requirements for those. That’s why, you can learn from Health Department Docs because it has a lot of.
Therefore, you should think about human resources, medical equipment, budgeting, material, method or system, and market surrounding in the hospital whether it is feasible to build the hospital or not. A Feasibility Study is needed for starting it.
Lets do it next!
Mishbahuddin

Have you counted a hospital cash flow when you will build
and establish a hospital?

We hope so. A lot of documents should be prepared for the
hospital license.

Before building, you should have a land (place) with a license
(Surat Kepemilikan Tanah) whether it belongs to yourself or your company from
National Land Agency (Badan Pertanahan Nasional). Furthermore, a license to
build should also be obtained it (Izin Mendirikan Bangunan) because the
hospital building is different with other buildings. Is it located in City center or school or countryside?

That’s just general requirement for building. However, there
are lots of requirements for license at Health Department. Application letter
is the first thing to apply it. In addition, some attachments should be
attached. What attachments are???

The organization should be officially permitted by Law Firm.
For instance, it can be Foundation, Co. Ltd., or Legal Organization. It is
attached with a feasibility study, a letter of environment analysis, master
plan of building, and any more. Is the building feasible for the hospital
building??? It’s like Operation room, Emergency room, Inpatient and Outpatient
room, and others. As a consultant on hospital building has to know the flow
chart of patients, medical staff, and non-medical staff.

Sometimes, when it has been built, an operation room is not
feasible to operate the patients. For example, the operation light, air circulation,
and etc can not be used properly.

And then, next to ………………

All right bro, I will continue this discussion to the next
page. Be patient bro!

Mishbahuddin