Menanti Pekanbaru Mendirikan RS

Posted: February 27, 2009 in Health and wellness
Tags: , , , ,

Sumber: Koran Riau Pos, Rabu 25 Februari 2009, Halaman 4

Sudah layakkah kota Pekanbaru memiliki
RSUD sendiri?

(SHOULD PEKANBARU CITY HAVE A PUBLIC HOSPITAL ITSELFS?)

Oleh:

Mishbahuddin,
Amp
rs, SKM,
MAHM.

(Dosen MANAJEMEN RUMAH SAKIT
STIKES HTP)

(Konsultan Manajemen Rumah
SAkit)

Rumah Sakit Umum
Daerah (RSUD) Arifin Ahmad merupakan salah satu RSUD dan satu-satunya RSUD rujukan
milik Provinsi Riau yang terletak di salah satu kabupaten/kota Provinsi Riau,
yang tepatnya di Ibukota Kota Pekanbaru. Hampir seluruh Kabupaten/Kota di
Provinsi Riau memiliki RSUD, bahkan ada yang lebih dari 1 (satu) RSUD dalam
satu Kabupaten. Namun pada kenyataannya, Ibukota Provinsi Riau sendiri tidak
mempunyai RSUD yang dimiliki oleh Kota Pekanbaru. Maka pertanyaannya, Apakah
Kota Pekanbaru juga harus memiliki RSUD sendiri seperti Kota/Kabupaten lainnya
yang ada di Provinsi Riau? Dengan melihat
kota
yang besar menuju Kota Metropolis dan jumlah penduduk meningkat setiap tahunnya
yang berdasarkan website Pekanbaru.go.id, jumlah penduduk Kota Pekanbaru adalah
586.223.

Seperti yang
diberitakan oleh 2 Media (Riau Pos tanggal 4 November 2008 dan Riau Mandiri
tanggal 25 Juni 2008), 2 orang Bapak anggota DPRD Kota Pekanbaru menyatakan bahwa
Pekanbaru perlu memiliki RSUD sendiri sehingga masyarakat tidak kesulitan
mendapatkan pelayanan maksimal khususnya masyarakat yang kurang mampu karena
tidak sedikit juga masyarakat miskin yang berada di Kota Pekanbaru Bertuah ini.
Alternatif lain juga disebutkan bahwa dengan jumlah Puskesmas Rawat Inap
(Ranap) di Kota Pekanbaru berjumlah 6 (enam) Puskesmas Ranap yang kemungkinan
salah satu Pukesmas tersebut akan dapat dikembangkan menjadi sebuah RSUD Kota
Pekanbaru. Pendapat para wakil rakyat ini juga telah disampaikan oleh Gubernur
Riau kita pada saat meresmikan pelaksanaan pembangunan gedung Rumah Sakit Umum
Muhammadiyah yang lalu mengatakan bahwa meminta Walikota dan Bupati untuk
membangun rumah sakit di setiap kecamatan.

Ada
sebagian pendapat menyatakan bahwa RSUD belum layak dan tidak sanggup untuk
didirikan di Kota Pekanbaru (Riau Pos tanggal 1 Juli 2008), dengan alasan
adanya RSUD Arifin Ahmad milik Provinsi Riau dapat dioptimalkan, serta
memerlukan biaya yang sangat besar. Maka pertanyaannya kembali, Apakah cukup
sebuah RSUD milik Provinsi Riau tersebut sudah dapat mewakili RSUD di Kota
Pekanbaru tanpa harus mendirikan RSUD yang baru?.  Berapakah layaknya RSUD dapat berdiri di
suatu Kota/Kabupaten?

Menurut
Sulastomo, jumlah Tempat Tidur (TT) rumah sakit di Indonesia
relatif masih kurang bila dibandingkan dengan Negara lain termasuk kawasan Asia dengan perbandingan jumlah penduduk, yaitu 0.6 TT
per 1.000 penduduk. Sementara Negara tetangga kita, seperti Malaysia 2.1 TT per
1.000 penduduk, Singapura 3.5 TT per 1.000 penduduk, dan Negeri Belanda 11 TT
per 1.000 penduduk. Menurut  hitungan salah
satu website bahwa rasio angka standar antara tempat tidur dan jumlah penduduk
adalah sekitar 1 banding 800 orang. Tapi, apakah hanya dihitung jumlah tempat
tidur milik RSUD saja yang dihitung. Ternyata tidak juga, kita juga harus
melihat rumah sakit lain selain milik pemerintah (Red-RSUD), apakah RS
TNI, Polri, Swasta, maupun RS dibawah Dinas Kesehatan Provinsi Riau sendiri (RS
Petala Bumi). Sudah optimalkah pendirian RS-RS tersebut khususnya RS milik
Pemerintah (RSUD)?

Setelah kita
lihat jumlah tempat tidur tersebut, ternyata Pemerintah sebagai Stakeholder seharusnya
mempertimbangkan terlebih dahulu sebelum membangun dan mendirikan sebuah RSUD.
Dalam ilmu manajemen, kita dapat menerapkannnya dalam pelaksanaan pendirian
sebuah RS. Ada
dikenal 5 unsur manajemen yang umum diterapkan dalam ilmu manajemen, yaitu
dengan nama ‘5 M’ sebelum mempertimbangkan pembangunan RS itu sendiri.
Dalam kenyataannya, banyak RS yang hanya menyerahkan bahkan sampai 100% percaya
kepada sebuah badan/lembaga dalam proses disain bangunan RS yang kadang-kadang
menghasilkan bangunan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan (red-standart)
dalam sebuah RS. Hal ini akan sadar bagi pemakai (user) setelah mereka
akan bekerja dibangunan RS tersebut ketika banguan tersebut telah berdiri. Maka
hal ini yang harus benar-benar diperhatikan para Stakeholder dalam penyerahan
disain bangunan RS sampai RS tersebut berdiri dengan megahnya.

Baru-baru ini
(awal bulan November 2008) yang lalu, para pemerhati RS, khususnya Manajemen RS
telah bersama-sama duduk dalam satu seminar Persiapan Konsultan Manajemen RS
yang dilaksanakan di salah satu RS di Jakarta Pusat oleh satu Badan yang
dikenal dengan Badan Keahlian Konsultan Manajemen Kesehatan (BKKMK),
merencanakan bahwa bagi konsultan-konsultan RS harus memiliki Sertifikasi sebelum
mereka melaksanakan konsultasi di suatu RS. Dengan adanya sertifikasi konsultan
manajemen rumah sakit tersebut diharapkan meminimalisasi kejadian-kejadian yang
tidak diharapakan oleh user RS.

Adapun ‘5M’ yang
disebutkan di atas perlu dipertimbangkan sebagai berikut, dengan M Pertama adalah
Man (Manusia/SDM). Sudah cukupkah tenaga/SDM kita untuk bekerja di RS
yang megah tersebut, seperti dokter spesialis minimal 4 spesialis (Penyakit
Dalam, Bedah, Kandungan, dan Anak, serta tenaga penunjang medis lainnya). Sudah
sesuai kualifikasikah karyawan yang bekerja di RS tersebut, serta hitung
berapakah yang harus dibayar untuk operasional SDM tersebut perbulan dan
pertahun. Kedua, Material (Bahan-bahan) yang tidak sedikit diperlukan
dalam sebuah RS. Ketiga, Machine (Mesin) yang mempunyai teknologi tinggi
dalam sebuah RS. Salah seorang ahli Teknologi (Red-IT) mengatakan bahwa
teknologi setiap hari bisa berubah sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan.
Begitu juga dalam RS yang senantiasa harus mengikuti perkembangan teknologi
kedokteran/kesehatan dimana satu alat tersebut bisa seharga ratusan juta rupiah.
Method (Metode) merupakan M yang keempat. Metode apa yang cocok dalam
suatu proses pengembangan RS, atau siapkah menjadi rumah sakit BLU. Terakhir
dan juga merupakan hal yang tidak bisa dilupakan adalah Money (UUD=
Ujung-Ujung Duit). Berapakah biaya itu semua?. Harga mesin saja (alat-alat
kedokteran/kesehatan) tersebut bisa mencapai 2 (dua) atau 3 (tiga) kali lipat
dalam pembangunan RS. Tapi itu tergantung pada alat-alat tersebut, apakah kita
menggunakan alat-alat second hand, baru dengan kualitas pertama, atau
baru dengan kualitas kedua dan seterusnya, itu semua tergantung biaya RS yang
dimiliki. Sudahkah kita mempertimbangkan hal-hal tersebut sebelum mendirikan
sebuah RS? Sudahkah kita menghitung berapa biaya yang akan dikeluarkan dan
berapa biaya yang kita dapatkan (sumber dana), apakah dari Pemerintah atau
lainnya dengan menghitung alur kas (CashFlow) sebelum membangun sebuah
rumah sakit?.

Kita sama-sama
pertimbangkan, jangan sampai telah dibangun sebuah RSUD yang sangat megah akan
tetapi user sebagai pengguna dalam RS belum siap menjalankan /
mengoperasionalkan RS tersebut dikarenakan tidak sesuainya disain dan anggaran
yang diharapkan. Jangan sampai juga rumah sakit yang sudah kita dirikan tapi
pasien masih ‘lari’ ke rumah sakit luar negeri, bahkan suatu
perkumpulan/organisasi membuat MOU dengan rumah sakit luar. Kenapa kita tidak
melakukan MOU dengan rumah sakit kita sendiri. Apakah masalahnya dari segi social
marketing
kita? Mari kita pikirkan bersama untuk perkembangan RS di Riau
ini, khususnya Kota Pekanbaru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s