Rumah Sakit di Riau

Posted: September 28, 2007 in Health and wellness

Sumber: Koran Riau Pos, Sabtu 1 September 2007, Halaman 4

MASIH ADAKAH RUMAH SAKIT DI RIAU ? (IS THERE STILL HOSPITAL IN RIAU?)

Oleh: MISHBAHUDDIN

Diploma in Management of Hospital Services (University of Indonesia, Jakarta)

Bachelor of Public Health in Management of Health Services (University of Indonesia, Jakarta)

Master of Arts in Hospital Management (University of Leeds, UK)

Rumah Sakit (RS) adalah sebagai tempat untuk melayani manusia (pasien) baik yang sedang sakit maupun yang sehat dengan menggunakan alat/ teknologi canggih sesuai dengan kebutuhan pasien, serta dilayani oleh sekelompok manusia (SDM/ karyawan).

Berdasarkan data dari Depkes dalam salah satu majalah kesehatan, bahwa jumlah RS umum pada tahun 2006 di Indonesia adalah sebagai berikut:

RS milik Depkes RI sebanyak 31, Milik Pemda Propinsi sebanyak 78, Pemda Kab/Kota berjumlah 355, TNI/Polri sebanyak 112 RS, Milik BUMN adalah 78 RS, dan Milik Swasta berjumlah 638 RS.

Begitu juga RS yang ada di Riau bahwa berdasarkan depkes.go.id, Riau memiliki 10 buah bangunan RS milik Pemerintah, 11 bangunan RS milik Swasta, 5 bangunan RS milik TNI/Polri, dan 6 RS milik BUMN, dengan jumlah penduduk 5.869.934 jiwa. Selain jumlah RS di atas, telah berdiri beberapa rumah sakit yang baru lagi yang belum beroperasi/ berjalan di beberapa Kabupaten di Riau, seperti RS di Duri (Riau Pos, 19 Juli 2007).

Sebagai pusat rujukan di Riau, RSUD Arifin Achmad bahkan telah dibangun gedung megah baru yang akan digunakan/ dijalankan secara operasionalnya dimana kita semua sama-sama tidak tahu kapan akan beroperasi. Selain itu, sebagian RS di propinsi Riau ini khusunya kota Pekanbaru, ada yang sudah ter’akreditasi’, ada yang sedang dalam proses akreditasi, ada yang baru berdiri, dan ada juga yang akan bertambah jumlah RS satu persatu. Ternyata, Riau khusunya Pekanbaru memiliki RS yang tidak sedikit. Lalu, kenapa banyak orang, khususnya masyarakat Riau ‘berbondong-bondong’ berobat ke Luar Negeri (LN) (Malaysia, Singapura, dll)??? Berdasarkan data dari salah satu media, jumlah masyarakat Riau yang berobat ke LN (Malaysia) adalah sedikitnya 7.500 pasien asal Riau berobat ke Luar Negeri, dan 6.000 diantaranya berobat ke Malaka, Malaysia.

Ada apa dengan RS kita???

Dokter lulusan dari Negara tercinta kita Republik Indonesia (RI), juga mempunyai kualitas yang bagus, bahkan banyak dokter Warga Negara Indonesia (WNI) sendiri lulusan dari LN atau dari Negara-negara maju. Berarti kualitas dokter kita yang bekerja di Negara Indonesia khususnya Riau tidak kalah bersaing dengan dokter-dokter asing.

Tahun 2008, berdasarkan sumber dari Perhimpunan RS Seluruh Indonesia (PERSI), di negara RI kita yang tercinta ini akan dibuka pasar dokter-dokter asing dari Negara manapun yang akan boleh bekerja dan berpraktek. Kembali kita bertanya, kenapa kita masyarakat Indonesia khususnya Riau pergi berobat jauh-jauh??? Apakah ada yang salah dengan hal pelayanan atau manajemen RS kita sendiri??? Masih adakah masyarakat merasa kurang puas dengan pelayanan dan sistem manajemen RS di Negara kita sendiri???

Manajemen RS, pada dasarnya bagaimana mengelola RS agar menghasilkan kualitas pelayanan yang prima kepada konsumen (pasien), serta bagaimana mempertahankan SDM-SDM yang profesional tetap bekerja di RS. Sekarang muncul adanya Akreditasi, TQM (Total Quality Management), ISO 9001, dsb yang semuanya itu sama-sama bertujuan untuk meningkatkan kualitas yang ada. Akan tetapi, tetap saja sebagian masyarakat masih berobat ke LN, yang itu juga merupakan hak setiap individu/ masyarakat.

Pelayanan pasien di RS tidak hanya dilakukan oleh sekelompok dokter (medis) saja, tapi juga pelayanan dari bagian paramedik (perawat), penunjang medis, dan non medis. Pada prinsipnya, semua unsur-unsur tersebut wajib bekerjasama serta adanya koordinasi diantara sesama mereka untuk mencapai pelayanan yang optimal. Sebagai contoh pelayanan dalam hal keperawatan yang sangat mendasar adalah adanya sikap yang ramah dan komunikatif terhadap pasien dan keluarga pasien. Dengan adanya pelayanan yang lemah lembut dan ramah merupakan salah satu obat dalam kesembuhan pasien secara psikologis.

Pelayanan berarti bahwa pihak RS wajib melayani pasien baik itu dilihat dari sisi ekonomi maupun sosial, misalnya: dimana tidak hanya melihat pasien yang mempunyai kemampuan  dalam hal financial saja tapi juga pasien yang “tidak mampu”. Saat ini juga telah ada yang namannya asuransi kesehatan keluarga miskin (Askeskin), yang berarti bahwa keluarga yang tidak mampu juga berhak mendapatkan pelayanan yang sama dengan yang lainnya. Bagi pasien keluarga miskin tersebut bukan berarti tidak membayar RS sehingga RS merasa rugi, tapi mereka dibayar oleh pemerintah, untuk itu pihak RS khususnya RS Umum yang melayani Askeskin berkewajiban melayani pasien tersebut dengan pelayanan yang sama dengan pasien yang membayar langsung ke RS (out of pocket). Kalo memang ada batasan-batasannya dalam hal fasilitas yang didapatkan oleh pasien Askeskin, muncul pertanyaan bahwa sudah optimalkah dalam hal sosialisasi Askeskin tersebut kepada pengguna Askeskin?? Bagaimanakah cara yang efektif dan efisien untuk sosialisasi Askeskin? Sebagaimana yang dikutip dalam sebuah situs resmi Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (menkokesra) bahwa “dana Askeskin dari pemerintah yang diserahkan kepada PT Askes digunakan untuk membiayai tiga kegiatan pokok yakni pelayanan kesehatan langsung, sosialisasi dan pencetakan kartu serta operasional PT Askes”, sedangkan 92% dari dana tersebut digunakan untuk pelayanan kesehatan langsung. Berapa persenkah untuk sosialisasi? Sudah cukup tahukah masyarakat pada umumnya dan warga miskin pada khususnya dengan sosialisasi yang ada (kalo ada).

Nah, sudahkah sekelompok bidang-bidang/ orang-orang profesional yang bekerja di RS tersebut bekerja secara optimal, yang merupakan kewajiban mereka dalam hal pelayanan pasien??? Apakah sebagian masyarakat masih akan tetap pergi jauh-jauh mengeluarkan tenaga, waktu, materi yang agak berlebih, serta meninggalkan pekerjaan dan keluarga JIKA pelayanan RS kita sudah berjalan optimal/baik??? Coba tanya pada diri kita masing-masing apakah itu dokter, perawat, bidan, petugas rontgent, petugas laboratorium, dan petugas non medis (unsur-unsur manajemen RS, resepsionis, dll) telah bekerja melayani pasien sesuai dengan TUPOKSI-nya (Tugas Pokok dan Fungsi) serta sesuai dengan latar belakang pendidikannya???

Mari kita sebagai tenaga-tenaga profesional di RS bersama-sama tingkatkan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan minimal, baik berupa pelayanan obat-obatan, pelayanan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai, pelayanan langsung dari dokter/ perawat terhadap pasien, serta sistem manajemen RS yang baik untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang maksimal terhadap pasien dan masyarakat luas. Semua unsur/ kelompok profesional di atas adalah mitra kerja dalam sebuah rumah sakit.

Advertisements
Comments
  1. Unknown says:

    cheap wow powerleveling
    cheap wow powerleveling -538392030043706

  2. dr. betti says:

    bukan krn mrk gag percaya, ada yg demi gengsi / prestise, ada jg yg ngabisin jatah fasilitas dari asuransi nya, sayang bayar premi asuransi international mahal mahal klu fasilitasnya gag dpergunakan, tul gag??

    • mishbahuddin says:

      Thanks for comment nya bu Betti walaupun sy dah lama juga nulis topik nya.
      Mang benar itu hak setiap individu khususnya bagi mereka yg berduit, dan kita juga sama2 meningkatkan RS kita juga ya >…………. hehehee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s